Sejarah
Showing posts with label Feature. Show all posts
Showing posts with label Feature. Show all posts

Tak Ada Lagi Tepung Sisa Emping


183 perempuan dari tiga desa menghimpun diri dalam wadah koperasi, memproduksi emping melinjo. Produk yang sebelumnya menumpuk kini laris, tepung sisa emping pun tak ada lagi.

Adalah perempuan dari Gampong Dayah Beureueh, Pante Beureueh, dan Gampong Lueng Sagoe Beureueh Kecamatan Mutiara Barat Kabupaten Pidie yang pada tahun 2008 sepakat untuk mendirikan koperasi. Awalnya mereka memproduksi emping melinjo berkelompok secara terpisah.

Keinginan untuk berusaha bersama dengan manjemen yang terarah membuat mereka menghimpun diri dalam koperasi. Namun sebagai perempuan kampung yang masih “buta” terhadap manajemen bisnis, membuat koperasi baru itu lamban untuk bangkit. Pemasaran produk mereka masih seputar kecamatan Mutiara saja.

Dua tahun kemudian mereka mendengar adanya Koperasi Pemasaran Masyarakat Aceh (Kopemas) sebagai koperasi skunder yang memberikan dampingan serta pelatihan manjemen untuk berbagai koperasi di daerah melalui Proyek Ekonomi Sosial Aceh Terpadu (Pesat) yang bekerja sama dengan Canadian Co-Operative Asociation (CCA).

Nurhasnah, Ketua Koperasi Hareukat Poma, Kamis (31/5/12) mengungkapkan, pendampingan yang mereka terima membuat usaha mereka lebih terarah dengan pasar yang lebih terbuka. “Awalnya kami rugi karena pemasaran hanya di wilayah Kecamatan Mutiara saja. Banyak produk kami yang menumpuk, tapi kini kualitas produksi dan pemasaran jadi lebih baik,” ungkap perempuan yang menahkodai koperasi itu sejak 2011.

Menurut Nurhasnah, Hareukat Poma merupakan Koperasi Serba Usaha (KSU) yang proses pembentukan dan pendampingannya di fasilitasi oleh PASKA, sebuah organisasi pengembangan masyarakat akar rumpun yang memberikan mobilisasi dan dukungan serta pelatihan teknis.

Melalui pendampingan yang mereka terima, Hareukat Poma kemudian bangkit. Mereka tak lagi mengejar jumlah produksi yang banyak, tapi memperbaiki kualitas. Sebagai anggota Kopemas, mereka diminta untuk memproduksi empat jenis emping melinjo dengan kualitas dan harga yang berbeda. “Pengelompokan menurut kualitas emping serta kemasan yang bagus membuat emping produksi kami kini jadi laris di pasar,” lanjut Nurhasnah.

Ia berharap Kopemas bersama The Canadian Co-Operative Association (CCA) mau terus membantu dan mendampingi mereka dalam mengembangkan usahanya. “Meski program CCA akan berakhir, kami harap Kopemas bisa terus membantu,” harapnya.

Kalaupun pendampingan itu berakhir, Nurhasnah yakin koperasi yang dipimpinnya itu kini bisa mandiri. “Ya, kami yakin bisa mandiri sekarang, apalagi simpan pinjam anggota berjalan lancar, tidak ada yang macet,” katanya.

Atas keberhasilan tersebut, Pemerintah Kabupaten Pidie membantu pembangunan kantor pusat aktivitas koperasi Hareukat Poma di Gampong Dayah Beureueh. Nurhasnah sangat mensyukuri hal itu, aktivitas mengelola koperasi dan pelayanan kepada anggotanya jadi terpusat di kantor itu, meski hanya sebuah ruangan berukuran tiga kali empat meter.

Hal yang sama juga diungkapkan Lukman, pendamping dari PESAT yang ditempatkan di Koperasi Hareukat Poma, Jumat (1/6/12). Di koperasi ini ia ditunjuk sebagai menejer pemasaran sejak September 2011. Ia berkewajiban membuka jaringan pemasaran keluar daerah, tidak lagi hanya sebatas Kecamatan Mutiara.

Untuk memperluas pasar, Kopemas selaku koperasi skunder mensiasati produk emping melinjo dari Koperasi Hareukat Poma dalam empat kriteria, tiga mentah dan satu siap saji, yakni kriteris super sebagai tipe produk paling unggul, kriteria lase sebagai tipe produk menengah, dan kriteria barang sebagai tipe paling rendah.

Sementara satu lagi kriteris siap saji ceplis atau sigetok yang siap saji dengan beraneka rasa. Ada rasa anggur, strawbery, nenas, pedas manis, rasa duren dan lain-lain. “Yang super itu untuk sementara kami belum produksi karena itu kualitas super, produksinya juga harus khas, tiga produk lainnya selalu ada,” jelas Lukman.

Dengan pemisahan kriteria seperti itu, produk Koperasi Hareukat Poma lebih banyak terserap ke pasar. Lukman berhasil membuka pasar dari Kabupaten Pidie hingga ke Medan, Sumetra Utara. “Ada tujuh agen khusus yang mengambil barang dari kami, selain kami tempatkan di supermarket dan outlet-outlet,” ungkapnya.

Lukman merincikan agen sebagai pasar baru yang dibukanya antara lain: agen di Kota Sigli, Simpang Empat Meurah Dua, Kota Meureudu, Bireuen, Kuala Simpang, Medan, dan beberapa supermarket. “Yang kualitas super harganya sekarang Rp47.000 perkilo, yang lase Rp42.000, barang Rp37.000, dan ceplis aneka rasa Rp45.000,” rincinya.

Bila awalnya setiap bulan emping melinjo produksi Koperasi Hareukat Poma laku sekitar 150 hingga 200 kilogram di pasar, kini seiring perluasan pasar dan jaringan menjadi 700 hingga 800 kilogram. “Dulu emping melinjo menumpuk bahkan ada yang membusuk, tapi kini tidak ada lagi, tepung sisa emping pun sudah laku, dibeli oleh seorang agen di Kuala Simpang Aceh Tamiang untuk bahan adonan kue,” pungkasnya.

Para perempuan di Beureueh itu kini bisa tersenyum. Emping melinjo mereka tak lagi menumpuk. Dan, ketika mereka membutuhkan dana segar untuk kebutuhan keluarga yang mendesak—semisal untuk biaya sekolah anak—fasilitas simpan pinjam di koperasi selalu bisa mereka manfaatkan.

Pada Rapat Anggota Tahunan (RAT) Kopemas, 5 Mei 2012 di Hotel Lading, Banda Aceh, Koperasi Hareukat Poma terpilih sebagai salah satu koperasi primer yang memperoleh penghargaan. Penghargaan itu didapat tak lepas dari berjalannya laporan keuangan koperasi dengan baik dan tidak macetnya aktivitas simpan pinjam anggota.

Di Kecamatan Mutiara kini Hareukat Poma menjadi “mutiara” bagi anggotanya di tengah banyaknya koperasi yang mandeg dan tak jelas aktivitasnya.[Iskandar Norman]



Biola Damai Pak Geuchik



Tujuh tahun (1993 – 2000) memimpin desa membuat ia harus menanggalkan jabatannya dibawah todongan senjata. Hijrah ke Banda Aceh untuk menyelamatkan nyawa. Lalu dengan gesekan biola tua mengabarkan damai ke seantero Aceh.

Inilah kisah pak tua, Ismail Sabi, publik mengenalnya sebagai Syeh Maneh, penggesek biola tradisional Aceh. Pria kelahiran Desa Pulo U, Kemukiman Beuriweuh, Kecamatan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya ini menggeluti seni gesek biola sejak usia belasan tahun.

Di desa yang kelak dipimpinnya itu pula, ia mendirikan kelompok penggesek biola. Namun konflik memupuskan segalanya. Selain order pementasan yang tak ada lagi karena pertunjukan biola sering malam hari, regenarasi yang diciptakannya mandeg. Pemuda kampung yang didiknya harus keluar dari daerah mencari peruntungan akibat konflik. Ada pula yang naik gunung menjadi kombatan.

Suatu malam di tahun 2000, empat pria berpakaian setengah loreng menggedor pintu rumahnya. Ia dijemput paksa dibawah todongan senjata. Sebagai Geuchik (kepala desa-red) yang sudah dua periode memimpin Desa Pulo U, ia paham betul apa yang akan dialaminya. “Mereka yang menjemput saya itu, saya kenal. Saya tahu itu suruhan siapa, jadi saya ikut saja,” kata Syeh Maneh dalam suatu pembicaraan awal tahun 2008 lalu dengan saya.


Ia pun kemudian berkisah. Malam itu adalah malam kudeta baginya. Jabatannya sebagai geuchik ingin direbut dengan memanfaatkan orang-orang bersenjata. Pada malam buta itu, ia digiring ke meunasah. Dugaannya tentang kudeta itu semakin jelas, karena di meunasah seluruh masyarakat yang dipimpinnya sudah dikumpulkan.

Pria bersenjata yang mengiringnya ke dalam meunasah. Ia duduk di tempat imam biasa memimpin shalat, menghadap ratusan masyarakatnya yang mulai tegang. “Teungku Geuchik tapeutrôn malam nyoë, pèng pèng bantuan keu janda kageuseukuet, (kepala desa harus kita turunkan malam ini, batuan untuk janda sudah dia sunat-red)” teriak pemuda bersenjata itu di hadapan warga.

Syeh Maneh mengaku sangat tegang waktu itu. Ia menyadari ada yang menusuknya dari belakang. Kudeta malam itu dilakukan oleh orang-orang yang kalah dengannya pada pemilihan geuchik kali kedua. Dalam suasana seperti itu, ia mengingat kembali bantuan apa saja yang pernah disalurkannya kepada warganya. “Mereka mencoba mencari-cari kesalahan saja,” kenang Syeh Maneh.

Tak terima dengan tudingan itu, ia pun meminta waktu untuk membela diri di hadapan warganya. “Ada dua hal yang saya sampaikan waktu itu, soal jabatan saya sebagai geuchik dan bantuan kepada warga,” jelasnya.

Soal jabatan geuchik ia menjelaskan, siapun pun boleh memimpin. Tak ada masalah baginya. Ia yang dua kali pemilihan sudah dipilih orang masyarakat, akan turun bila itu kehendak masyarakat banyak, meski periode kepemimpinannya belum berakhir.

Ia pun bertanya kepada warga, siapa yang menginginkan ia turun dari jabatan geuchik agar tunjuk tangan. “Malam itu hanya enam orang yang tunjuk tangan, dan benar mereka itu orang yang saya duga,” ungkap Syeh Maneh.

Setelah itu Syeh Maneh kembali meminta agar warga yang masih mengingin dirinya jadi geuchik tunjuk tangan. Serentak warga tunjuk tangan. “Saat itu ketegangan saya berkurang, masyarakat belum terpengaruh dengan provokasi, saya beranggapan akalu pun saya diapa-apakan masyarakat pasti akan bantu saya,” katanya.

Ia kemudian berkata kepada empat pria bersenjata yang masih di sampingnya, bahwa persoalan pertama sudah terjawab, bahwa dia masih dipercayakan untuk memimpin kampungnya. Selanjutnya, ia meminta beberapa janda penerima bantuan untuk maju ke hadapannya. Ada 12 orang.

Syeh Maneh meminta kepada para janda tersebut untuk menjelaskan pemotongan bantuan yang mereka terima. Selain 12 orang itu, ada tiga perempuan lain yang hidupnya sangat memprihatinkan. Mereka menceritakan bahwa pemotongan itu atas persetujuan mereka untuk disisihkan kepada tiga perempuan miskin tersebut. “Saya tak perlu menjelaskan dengan mulut saya, karena malam itu mereka yang menerima bantuan hadir,” kenang Syeh Maneh.

Setelah kedua persoalan itu terjawab. Syeh Maneh selaku kepala desa meminta waktu untuk berbicara di hadapan warga. Dengan lapang dada, meski masih diharapkan untuk memimpin desa, malam itu ia menyatakan mengundurkan diri dari jabatannya. “Masyarakat kecewa, tapi ini soal nyawa saya, saya harus mundur,” lanjutnya.

Setelah peristiwa malam itu, Syeh Maneh merasa tidak nyaman, gerak-geriknya selalu jadi sorotan. Teror secara tidak langsung kembali ditujukan padanya. Tak mau keluarganya celaka ia hijrah ke Banda Aceh.

Di ibu kota provinsi itu, ia harus memulai hidup dari nol. Tak banyak bekal yang dibawanya dari kampung, selain sebuah biola tua dan beberapa ratus ribu uang. Dengan modal kecil ia mulai melakoni hidup sebagai pedagang minyak eceran di simpang asrama PHB, sebuah komplek rumah yang dihuni keluarga tentara di Lampriek, Kecamatan Kuta Alam, Kota Banda Aceh.

Di sela-sela menjajakan minyak kepada pengendara motor yang lewat, ia menjadi bilal di mesjid dalam komplek Sekolah Dasar (SD) Bhayangkara yang bersebelahan dengan Sekolah Menengah Umum (SMU) Negeri 3 Banda Aceh. Dari sana ia membangun interaksi dengan masyarakat setempat, hingga kemudian sering diminta untuk menjadi imam shalat.

Di waktu senggang, sebelum lelap dalam buain malam, Syeh Maneh memainkan biola tuanya. Mengulang irama dan bait-bait syair lagu yang pernah diamainkannya. Beragam syair-syair baru diciptakannya, mulai tentang kerinduan, romantisme, kekerasan, dan lain sebagainya. “Saya menggesek biola untuk menghibur diri dan menghindar lupa,” katanya singkat.

Ia kemudian masuk ke bilik belakang kiosnya. Sesaat kemudian keluar sambil mengapit biola warna coklat muda yang mulai memudar. “Ini yang saya maksud, biola lama telah hilang waktu tsunami, tapi ketika ada tawaran konser damai Aceh saya pinjam biola kawan saya di Aceh Utara,” katanya sambil tersenyum.

Biola itu disangkutkan di lehernya, jari-jari tangan kirinya menyentuh damai. Dengan pelan ia mulai menggesek. Terdengar irama datar mendayu. Sesekali pada gesekan irama melengking, ia menggesek sambil memejamkan mata, seolah menyatukan jiwanya dengan irama bernada miris.

Tangannya begitu cekatan, beberapa murid SD yang menunggu jemputan orang tuanya terdiam seolah bengong menikmati alunan nada biola Syeh Maneh. “Jarang-jarang saya main biola ketika sedang jualan, tapi karena kita berasal dari daerah yang sama, ini saya persembahkan sebagai penyambut saudara,” katanya sambil tersenyum seolah memamerkan satu giginya berbalut perak.

Dua irama khas biola Aceh sudah dimainkan. Ia kemudian mengesek irama Melayu. Belum habis satu lagu, ia berhenti. Seorang wanita menghampir kami, menghidangkan minuman dan makanan ringan. “Ini ibu anak-anak,” ia memperkenalkan istrinya.

Setelah menyerumput beberapa teguk kopi, Syeh Maneh melanjutkan ceritanya. Kini beralih ke soal tsunami. Saat musibah raya 26 Desember 2004 itu, kiosnya rusak parah. Barangnya ludes. Ia harus memulai usahanya dagangnya dari nol. Biolanya juga hilang. “Tak ada yang tersisa meski hanya seutas senar,” katanya sambil menggeleng.

Meski demikian, ketenarannya sebagai seniman penggesek biola tak hilang. Pacaperdamaian ia dikontrak Aceh Monitorring Mission (AMM) untuk melakukan pertunjukan damai di berbagai daerah di Aceh.

Saat itu ia mengaku bimbang. Di satu sisi kerinduannya untuk menggesek biola sangat besar, di sisi lain ia tak lagi memiliki biola. Meski demikian Syeh Maneh langsung mengiyakan tawaran tersebut. Ia berangkat ke Aceh Utara, ia meminjam biola pada kawannya. “Biola boleh hilang, tapi kawan tidak akan,” katanya.

Syeh Maneh mengaku sudah bermain biola di berbagai pertunjukan sejak tahun 1954. Mengenal biola melalui Syeh Sabon, pemimpin grup biola di kampungnya. Awalnya Ia hanya dipakai sebagai pelakon, yang akan menarik dengan rentak irama biola yang digesek Syeh Sabon. Beragam peran ia mainkan, mulai dari lakon pria banci, sampai gadis yang gemulai.

Suatu ketika, group biola Syeh Sabon bertanding dengan grup biola Syah Ali pada pertunjukan pasar malam di Tringgaden, Pidie Jaya. Syeh Maneh muda selalu bisa mengikuti irama biola dalam jenis lagu apa pun.

Karena melihat talenta berlakon itu, ia ditarik ke grup Syeh Ali dan dibawa untuk bertanding dengan Syeh Ishak di Krung Geukueh, Aceh Utara. Di sana ia juga ‘dipingit’ Syeh Ishak. Ia diajak untuk melakukan pertunjukan ke berbagai daerah di Aceh.

Bersama Syeh Ishak, ia tidak lagi hanya sebagai pelakon, tapi juga pemain biola dan bernyanyi. Karena suaranya yang merdu, ia digelar Syeh Maneh, Syeh yang bersuara manis (merdu-red). Kemampuannya merangkai kata bersajak dalam syair yang berirama membuatnya semakin dikenal. “Saat itu saya bisa bermain ke semua daerah, tapi kemudian jadi vakum ketika pada tahun 1965 muncul peristiwa PKI,” kenangnya.

Namun setahun kemudian, ia mendirikan grup Biola Aceh. Remaja-remaja di kampungnya didik untuk kembali mengembangkan kesenian biola tradisional Aceh. Bersama grup biolanya ia pun kembali menggesek biola dari satu pertunjukan ke pertunjukan lainnya.

Syeh Maneh mengisahkan, suatu kebahagian baginya bisa bermain ke berbagai daerah. Saat pertunjukan pun ia harus membawakan syair sesuai karakter masyarakat setempat. “Bermain di daerah pesisir, syairnya tidak perlu disensor, jorok sedikit tidak masalah, malah mereka suka, tapi kalau masyarakat pedalaman harus santun,” kenangnya.

Tahun 2001 Syeh Maneh diundang untuk mengisi acara festival Danau Toba mewakili Aceh. Kala itu hanya dua kesenian Aceh yang dibawa, yakni biola Aceh dan seudati.

Saat mau tampil, persoalan muncul, penonton tidak bisa berbahasa Aceh, sementara syair dalam seudati dan lagu biola Aceh semua berbahasa Aceh. Untuk mengubah syair seudati dalam bahasa Melayu tidak mungkin.

Syeh Maneh pun dituntut untuk kreatif. Beruntung ia bisa menghafal syair dan memainkan irama beberapa lagu Melayu dan irama gambus. Di panggung lagu-lagu Aceh dibawakannya dengan terjemahan langsung ke bahasa Melayu.

Kepiawannya memainkan biola Aceh itu pula yang membuatnya dipinang oleh AMM untuk mengisi konser Aceh Damai ke hampir seantero Aceh. Ia sangat bahagia, ternyata masyarakat masih mengingatnya.

Di usianya yang tak lagi muda, ia menghabiskan hari-harinya di sebuah kios di depan SD Bhayangkara komplek PHB Lamprit, Kecamatan Kuta Alam, Banda Aceh. Murid-murid sekolah tersebut menjadi langgangannya.

Namun di balik ketabahannya itu, ia masih sangat rindu untuk kembali menggesek biola dengan irama damai dan melupakan kudeta bersenjata atas jabatannya tempo hari. “Itu masa lalu, sekarang sudah damai, saya juga sudah sering pulang kampung,” katanya menutup cerita.***

Senja di Mata Ie


Senja hampir rebah, keceriaan tak juga surut. Sabtu (29/11) kemarin, puluhan remaja kegirangan di wisata kolam renang Rindam Iskandar Muda, Mata ie, Kacamatan Darul Imarah, Kabupaten Aceh Besar.

Rinai hujan bawa gigil. Seorang bocah berdiri di papan peringatan samping kolam, bibirnya pucat. ‘’Setiap tahun ada korban tenggelam,’’ ungkap Sulaiman, pria paruh baya asal Keutapang. Ia sudah lima tahun berjualan di lokasi wisata tersebut.

Beberapa mobil dan puluhan sepeda motor parkir di samping mesjid yang hanya tiga puluh langkah dari kolam. Objek wisata ini dikelola Koperasi Resimen Induk TNI Angkatan Darat. Warna hijau sebagai simbol kemiliteran begitu kentara.

Meski dikelola militer, objek wisata ini dibuka untuk umum. Untuk menikmati pesona dan kesejukan Mata Ie, cukup membayar tiket Rp1.500 plus uang parkir sepada motor Rp1.000. Sementara penjual makanan dengan gerobak dikenakan retribusi Rp3000.

Untuk melepas penat, di samping kolam berjejer kafe-kafe kecil yang menyediakan makanan dan minuman ringan. Sulaiman menyetel musik Aceh pada VCD kafenya. Di kafe sebelahnya irama house mengalir.


Empat pria berkaos hijau beranjak dari lapangan tenis dekat mesjid, ‘’plung...’’ mereka mencerburkan diri ke kolam. Di belakang deretan cafe, beberapa pemuda menuruni bukit. Dari kaki bukit itu, disela-sela bebatuan air jernih mengalir. Sumber mata air yang dalam hikaya Bustanussalatin karya Syeh Nuruddin Ar-Raniry disebut sebagai Darul Isky. Kini dikenal sebagai Krueng Daroy.

Air dari celah bebatuan itu mengalir ke kolam, terus berlanjut ke Krueng Daroy. Sebuah Sungai yang pada masa Sultan Iskandar Muda dijadikan tempat pemandian keluarga istana.

Rinai hujan semakin deras. Belasan remaja menaiki pinggir kolam. Mereka menggigil. Dari menara mesjid terdengar alunan bacaan ayat Quran. Pemilik cafe menurunkan terpas depan, pertanda tutup. Keceriaan di kolam pemandian itu pun perlahan-lahan merambah sunyi, ditinggalkan pengunjung satu-satu.

Di celah batu kaki bukit itu masih terdengar gemercik air. Mengalir tanpa henti sepanjang zaman. Beragam kisah telah terekam di sana, mulai dari zaman keemasan kerajaan Aceh, pendudukan oleh kolonial Belanda, sampai kini dikuasi tentara.

Banyak yang berubah, termasuk airnya yang tak lagi sejernih gambaran Nuruddin Ar Raniry dalam kitabnya. Senja akhirnya rebah menjemput gelap. Selamat malam Mata Ie. [iskandar norman]

Tonggak Sunyi Halimon


Gunung Halimon tempat tonggak pertama sejarah Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dipancang. 4 Desember 1976, Hasan Tiro mendirikan gerakan tersebut. Kini tonggak itu sunyi di ketinggian bukit barisan.

Halimon merupakan medan yang berat. Jauhnya sekitar 18 kilometer dari Tangse. Tepatnya di Desa Blang Pandang, Kecamatan Tangse, Kabupaten Pidie. Di kaki bukit itu sawah membentang dengan panorama yang menakjubkan.

Jalan ke Halimon baru dirintis tahun 2003 lalu. Itu pun tak sampai kaki bukit. Untuk menuju puncak harus menelusuri jalan setapak yang berkelok sejauh 12 kilometer. Perjalanan ke sana susah, karena sering berkabut. Di puncak gunung itulah Hasan Tiro memproklamirkan GAM.

Ketika Aceh bergolak dengan konflik, tak ada yang berani ke sana, kecuali beberapa tentara. Itu pun hanya sebatas kaki bukit saja. Masa pemerintah menerapkan Daerah Operasi Militer (DOM) di Aceh, Halimon diklaim sebagai daerah hitam. “Butuh waktu lima jam untuk bisa sampai puncak. Bukitnya sangat terjal, kita harus memutar haluan,” jelas Ambiya, warga Desa Blang Pandak Kecamatan Tangse.


Untuk menembus belantara Halimon bukanlah mudah. Sepanjang jalan setapak banyak binatang buas. “Pacat juga banyak,” lanjut Ambiya. Pacat merupakan binatang penghisap darah sejenis lintah darat, bentuknya mirip cacing. “Bila digigit kemungkinan besar akan merobek jaringan kulit dan bisa-bisa menembus jaringan tubuh hingga dia keluar melalui anus (dubur) kita,” ungkap Ambiya.

Memasuki perbukitan gunung Halimon, berbagai pantangan harus dilakukan. Di antaranya, tidak boleh bersiul maupun berbicara dengan suara nyaring. “Ini pantangan, bila tak diindahkan maka guyuran hujan deras akan terjadi sepanjang jalan. Bila naik ke sama dengan niat jahat akan tersesat. Di lereng Halimon banyak makam para aulia,” jelas Ambiya.

Di puncak Gunung Halimon terdapat hamparan tanah datar. Bila cuaca cerah dari sana akan terlihat Kota Beureunuen seperti berada dalam jurang. Gunung ini letaknya sangat strategis karena bisa menembus ke Tangse, Geumpang, Tiro, hingga ke kawasan Cuba kecamatan Bandar Baru, Kabupaten Pidie Jaya.

Di mata mantan tentara GAM, Halimon merupakan tempat yang sangat bersejarah. Selain di puncak gunung itu GAM dideklarasikan, di situ pula Hasan Tiro memberikan pendidikan politik tentang Aceh dan latihan militer bagi pasukan GAM generasi pertama yang sebelumnya dikenal sebagai kelompok Aceh Merdeka. “Karena itu dulu Wali merencanakan menabalkan nama Halimon sebagai nama Universitas bila Aceh jaya,” kenang mantan Panglima GAM Wilayah Pidie, Sardjani Abdullah. [AI/22/10/08]

Tgk Usman Lampoh Awe 'Menyerah' Pada Leukemia


Penjara tidak mampu meluluhkan Tgk Muhammad Usman Di Lampoh Awe. Namun leukemia merenggutnya.

Kabar duka meninggalnya Mantan Menteri Keuangan GAM itu menyebar cepat ke seantero Aceh. Jumat (3/10) pukul 22.00 WIB tokoh GAM itu menghembuskan nafas terakhir di RSU Sigli, karena penyakit kanker darah (leukemia).

Tgk Usman Lampoh Awe merupakan tokoh GAM generasi pertama. Ia sudah terlibat dalam gerakan sejak GAM dideklarasikan pada 4 Desember 1976. Ia salah satu petinggi GAM yang bertahan di Aceh saat tokoh GAM lainnya mencari suaka ke luar negeri.

Pada akhir tahun 2002, menjelang diberlakukannya Cessation of Hostilities Agreemant (CoHA), Tgk Usman Lampoh Awe bersama Sembilan tokoh Aceh, Sofyan Ibrahim Tiba, Ilyas Abed, Dr Muslim Ibrahim, Imam Suja’, Prof Aliasaq Abubakar, Daniel Djuned, Hakim Nyak Pha dan Tgk Muhammad Arief, diundang ke Jenewa untuk bersama rombongan Henry Dunant Centre (HDC) untuk bertemu dengan Hasan Tiro.


Tgk Usman Lampoh Awe juga yang melantik Muzakkir Manaf sebagai Panglima GAM pada tahun 2003, setelah Tgk Abdullah Syafii tewas. Pelantikan itu dilakukan di Jimjiem, Kecamatan Bandar Baru, Kabupaten Pidie atas nama Perdana Mentri GAM, Malik Mahmud. Saat itu ia juga melantik Tgk Muhammad Arif sebagai Gubernur GAM Wilayah Pidie.

Pada 19 Mei 2003, ia ditangkap di Hotel Kuala Tripa, Banda Aceh setelah perjanjian penghentian permusuhaan antara RI-GAM gagal di Tokyo, Jepang. Ia dijerat dengan pasal 106 KUHPidana tentang maker dan Undang-Undang nomor 15 tahun 2003 tentang pemberantasan tindak terorisme.

Ia membantah tuduhan tersebut. Melalui kuasa hukumnya dari LBH Banda Aceh, Syarifah Murlina, Rufriadi, Afridal Darmi dan Ratna Dewi SH. Mereka menyatakan dakwaan jaksa terhadap Usaman Lampoh Awe kabur karena menggabungkan tindak pidana politik UU Nomor 1 Tahun 2002, tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme.

Namun, Ketua Majelis Hakim Pengadilan Negeri Banda Aceh, Syaiful Azwir memvonis Usman Lampoh Awe 13 tahun penjara. Saat Darurat Militer (DM) diberlakukan di Aceh. Tgk Usman Lampoh Awe bersama para petinggi GAM lainnya dipindahkan dari LP Keudah, Banda Aceh ke LP Sukamiskin, Bandung, Jawa Barat.

Setelah perjanjian damai antara GAM dan RI ditandatangani di Helsinky, Firlandia, 15 Agustus 2005, Tgk Usman Lampoh Awe dan petinggi GAM lainnya mendapat amnesty. Ia pun bebas. Tanggal 1 September 2005, Tgk Usman Lampoh Awe tiba kembali di Aceh. Dan, Jumat (3/10) dua hari lalu, petinggi GAM yang tak luluh dalam penjara itu, menyerah pada leukemia di ranjang RSU Sigli. Selamat jalan Teungku. [iskandar norman]

Burung MZ ‘Hilang’ di Sunatan Massal

Ini cerita konyol yang tragis bin memalukan bagi MZ. Jangan salah, kisah miris ini bukan tentang Zainuddin MZ, dai kondang itu. MZ ini hanyalah seorang bocah asal Blang Bintang, Kabupaten Aceh Besar, yang harus kehilangan ‘burung’ saat sunatan massal.

Meski hilangnya hanya lima senti, akibat salah sunat, hati MZ sangat tersayat. Bagaimana mungkin seorang dokter bisa salah sunat, hingga membuat ujung ‘rudal’ milik MZ tak lagi “runcing”.

Peristiwa naas itu terjadi Sabtu 28 Juni 2008 lalu. Hari itu, Bank Pembangunan Daerah (BPD) Aceh bekerja sama dengan Rumah Sakit Permata Hati, menggelar sunatan massal di rumah salah seorang petinggi bank tersebut. MZ dibawa orang tuanya sebagai salah satu peserta di antara lima ratus peserta lainnya.

Menjelang dhuhur, tiba giliran MZ untuk disunat. Ia pun siap-siap masuk ke bilik dengan kain sarungnya. Tiba-tiba ia dibawa keluar, dokter yang melakukan ‘eksekusi’ di bilik itu tampak kasak-kusuk. Selidik punya selidik, ternyata ‘burung’ milik MZ salah sunat. Bukan kulitnya yang digunting, tapi batangnya juga kena guntingan sampai lima centimeter.

Bocah itu pun kemudian dilarikan ke Rumah Sakit Permata Hati Banda Aceh. Ia dirawat di ruang VIP nomor 219. Rabu (2/7), Z ayahnya MZ, hanya bisa menatap anaknya dari luar ruang. “Saya hanya bisa melihatnya saja,” katanya dengan nada datar.

Meski demikian, bukan berarti Z pasrah terhadap nasib anaknya. Sebaliknya, meski nasi sudah jadi bubur, ia tetap ingin bubur itu bermakna. Makanya, bersama keluarga ia menuntut tim medis atas kesalahan menyunat alat vital anaknya itu. “Saya sudah siapkan pengacara,” ungkapnya.

Ia mengaku kesal dengan sikap tim medis yang dinilainya tidak becus melakukan sunatan. Sebagai orang tua, ia tidak ingin keperkasaan anaknya itu hilang.

Agar keperkasaan bocah itu tidak ciut, pihak rumah sakit berencana membawanya ke salah satu rumah sakit di Medan. “Kata mereka, punya anak saya yang putus itu akan dioperasi plastik,” ungkap Z. Asalkan saja rudal scud MZ tidak jadi plastik. [AI/03/07/08]

Teungku Thailand di Gerbang BRR

Pria berkaca mata hitam itu hilir mudik. Sesekali ia membetulkan letak topi pet-nya yang lusuh. Ia begitu sibuk diantara massa yang berdemonstarsi ke Badan Rehanilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh-Nias.

Janggut dan kumis tebal membuat tampilannya tampak sangar. “Itu Teungku Thailand,” kata salah seorang demonstran memperkenalkan pria kelahiran 1963 Jaba Timur, Kecamatan Peudada, Kabupaten Bireuen tersebut. “Ia punya banyak nama, itu salah salah satunya,” lanjut demonstran tadi.

Thialand melekat dinamanya, setelah pria berbadan kekar itu pulang dari negeri gajah putih tersebut. Maklum, saat konflik mendera Aceh, pria bernama Ramli Ismail itu minggat kesana.


Di negeri itu pula ia mengikuti latihan perang, hingga akhirnya memanggul senjata sebagai tentara nanggroe alias TNA, sayap militernya GAM. Tak tanggung-tanggung 13 tahun di Thailand membuatnya menjadi penyeludup senjata ulung ke Aceh saat konflik dengan menggunakan kapal nelayan.

Ia menyebut senjata yang diseludupkannya itu dengan istilah tukôk u (pelepah kelapa kering-red). Ia mendapatkannya setelah melakukan barter denan sarang wallet. “Saya hanya juru jalan, semua itu saya lakukan demi perjuangan,” katanya merendah. Meski tersenyum ia masih terlihat sangar.

Menyeludupkan senjata untuk perjuangan baginya itu cerita lama. Selasa (16/4) kemarin, ia menjadi pengatur massa yang melakukan demonstarsi ke BRR menuntut dana rehab rumah Rp15 juta per kepala keluarga. “Awas ada mobil lewat, tali pembatasnya dikencangkan,” teriaknya kepada massa ketika sebuah sebuah sedan mulus meluncur melewati massa. Saat berteriak kesan sangarnya semakin kentara saja.

Namun, sebuah sapa cukup untuk menghilangkan kesan sangarnya itu. Ia bisa terharu bahkan menangsi ketika berbicara tentang nasib massa korban tsunami yang menuntut haknya di BRR tersebut. “Berjuang untuk rakyat tidak akan pernah sia-sia,” katanya dengan mata basah. Ada bulir bening yang mengalir di sudut matanya.

Sesaat ia terdiam. Setelah menghembus nafas pelan ia berkata. “Bagi saya berkorban untuk rakyat lebih mulia dari pada menikmati hasil perdamaian.” Kali ini ia tidak bisa menahan air matanya. “Kini saatnya saya membalas jasa rakyat yang telah menyelamatkan saya, melindungi nyawa saya, megorbankan harta bendanya untuk perjuangan,” lanjut pria yang menguasai empat bahasa Asing ini.

Pria yang mampu berbicara dalam bahasa Thailand, Kamboja, Vietnam dan Laos ini menolak berkisah tentang kebersamaanya dengan masyarakat di Krueng Sabe, Aceh Barat saat konflik. “Terlalu getir untuk diceritakan, biar ini jadi pengalaman,” lanjutnya.

Dengan kemampuan berbahasa asing, sebenarnya dengan mudah ia bisa menjadi penerjemah di beberapa NGO internasional. Namun semua itu ditapiknya. “Keuntungan pribadi bukanlah tujuan hidup saya,” katanya datar.

Diakhir obrolan ia berujar, “Phom krab chong bacacun kwan rum twha bacacon tang mond. “ Melihat orang-orang sekelilingnya bingung, ia pun mengartikan maksud dari bahasa Tagalog itu. “Aku berjuang untuk rakyat yang teraniaya,” jelasnya. [iskandar Norman/boy n]

Ratnawati Terseret Calo PNS

Actus non facis reun nisi mensir rea, tiada terpidana tanpa kesalahan. Ungkapan yang
menyiratkan makna hukum di atas segala-galanya itu, di zaman modern ini ketika uang dan kekuasaan berkuasa, tampaknya tak selamanya benar. Bagaimana pun kadang kada ada terpidana tanpa kesalahan.


Setidaknya itu yang dirasakan betul oleh Hj Ratnawati. Pegawai kantor camat Meurah
Dua, Kabupaten Pidie ini, harus berhadapan dengan pengadilan. Ia dijerat dengan pasal
penipuan meski ia sendiri menjadi korban penipuan calo pegawai negeri sipil.

Rabu, sidang perdana digelar di Pengadilan Negeri (PN) Sigli. Dalam sidang yang dipimpin majelis hakim Toni Irfan (hakim ketua) Tgk Syarafi dan Juwita (hakim anggota) Ratnawati dijerah oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Negeri (Kejari) Sigli dengan pasa 378 atas tuduhan penipuan. “Saya korban, sudah jatuh tertimpa tangga, saya terima ini sebagai cobaan,” kata Ratna dengan nada datar usai persidangan.

Dalam sidang dengan agenda pembacaan dakwaan itu, Ratnawati didampingi dua kuasa hukumnya, Yahya Alinsa SH dan Ansharullah Ida SH dari kantor pengacara Yahya Alinsa and Asociate.

Ratna menjelaskan, ia terjebak dalam sindikat calo Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) pada tahun 2005 lalu. Saat itu untuk mengisi formasi pegawai yang meninggal akibat tsunami, dibukalah formasi CPNS pengganti.
Pengisian formasi pengganti itu dilakukan berdasarkan surat yang dikeluarkan oleh

Badan Kepegawaian Negara (BKN) di Jakarta tanggal 10 Juni 2005. Surat bernomor F 26-4/V 61-8/39 yang ditandatangani oleh Drs H Ridwan Kamarsyah, MM atas nama Kepala BKN Deputi Bidang Pengendalian Kepegawaian, ditujukan kepada Gubernur NAD.
Kemudian pada 16 Agustus 2005, Taufiq Effendi atas nama Menteria Pendayagunaan Aparatur Negara (Menpan) Republik Indonesia mengeluarkan surat bernomor B/154/M.PAN/8/2005. Surat yang bersifar segera itu memuat perihal pengisian formasi CPNS Tahun Anggaran 2005.

Dalam surat yang ditujukan kepada Gubernur Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) disebutkan bahwa berdasarkan surat Gubernur NAD nomor: Peg.800/1160, tanggal 30 Juli 2005, Menpan memberi tanggapan bahwa pengisian formasi CPNS itu menganut sistim satu pintu, yaitu dari Gubernur. Dengan demikian semua dipertanggungjawabkan kepada gubernur untuk menghindari terjadinya kesimpang-siuran.

Kesempatan itu ternyata dimanfaatnya oleh Bustami. Pria asal Idi, Aceh Timur yang menetap di Jakarta ini mengatakan punya koneksi ke Mempan untuk mengurus penerimaan pegawai tersebut. Di Sigli Bustami mengunakan Said Nazar bin Husein untuk mencari CPNS yang akan diurus.

Menegtahui hal itu Ratnawati menghubungi Said agar mengurus salah seorang anaknya menjadi CPNS. Usaha Ratnawati itu diketahui saudaranya yang meminta mengurus anaknya. Imbalannya Said meminta uang Rp 25 juta sampai Rp 30 juta per CPNS.

Celakanya, hal itu diketahui oleh beberapa orang di Ulee Gle, Kecamatan Bandar Dua, kabupaten Pidie. Mereka pun mendatangi Ratnawati meminta agar anak mereka juga diurus menjadi CPNS. Ada sepuluh orang yang menyerahkan uang melalui Ratna untuk pengurusan CPNS tersebut. “Uang itu semua saya serahkan transfer ke Said melalui rekening Bank BNI Cabang Medan,” jelas Ratna sambil memperlihatkan bukti transfer uang tersebut.

Kenyataanya kemudian, Bustami selaku calo malah ditangkap. Ia dijebloskan dalam penjara. Namun setelah melalui serangkaian persidangan di PN Sigli, pria berewokan itu divonis bebas.

Salah seorang sumber Independen di PN Sigli menduga ada permainan dalam kasus tersebut, karena jaksa tidak menghadirkan Said sebagai saksi. Yang dihadirkan hanya beberapa korban, yang tidak pernah berhubungan dengan Bustami. Karena itulah Bustami divonis bebas setelah hampir satu tahun mendekam dalam penjara Benteng, Sigli.
Sementara Said dalam kasus yang sama, Jum’at (21/03) divonis 18 bulan penjara oleh majelis hakim di PN Sigli. Kini tinggallah Ratnawati yang harus berhadapan dengan pengadilan. [Iskandar Norman]

Molen Dewasa Sebelum Waktunya

Ia tumbuh dewasa sebelum waktunya. Tapi bukan karbitan. Deni Maulana. Usianya 11 tahun. Tapi gaya bicara jauh di atas usianya. Kerasnya hidup sebagai kernet dum truck, membuat siswa kelas lima sekolah dasar ini bergaul dalam kedewasan saat usianya masih belia.

Tsunami pada 26 Desember 2006 silam, telah merengut pelukan ibu darinya. Kini tinggal ia bersama abangnya di sebuah rumah bantuan di Desa Meunasah Baro, Kecamatan Meuraxa,
Kota Banda Aceh. “Saya harus mandiri bang,” katanya dengan logat khas Aceh Besar.
Untuk mendiri dengan keringat sendiri itu pula, Deni menepis indahnya bermain dimasa kecil. Ia masuk dalam lingkungan dewasa. Kisah itu bermula ketika remaja berkulit sawo matang itu tinggal di barak Lambaro. Saat banyak bantuan mengalir ke barak. Ia merasa dirinya seakan tak berguna karena hidup dari bantuan.

Di simpang Lambaro, Aceh Besar ia berkenalan dengan seorang supir dum truck. Kepadanya Deny meminta bantuan. Bukan uang, tapi bekerja menjadi kernet. Para sopir menolak permintaan anak kecil tersebut. Karena simpati, malah para sopir memberinya uang, tapi ia menolaknya. “Saya tidak ingin menyusahkan orang lain. Pernah saya lempari sopir yang memberikan saya uang,” kata Deni.

Keseringan meminta dipekerjakan itu pula, kemudian membuat hati Ridwan, salah seorang sopir dum truck tergerak untuk mempekerjakannya. “Awalnya saya tidak berani, karena takut dituduh mempekerjakan anak-anak. Tapi melihat ketegaran dia untuk hidup, hati saya luluh. Saya mempekerjakannya dan siap dengan resiko disebut mengekspoitasi anak,” ungkap Ridwan.

Sejak itulah ia hidup dengan keringanya sendiri. Oleh rekan kerjanya Deni kemudian dipanggil Molen, kecil, mungil, tapi berkarakter keras. “Tugas saya saat ikut dum truck yang mengangkut tanah timbun atau pasir, adalah mengikat dan membuka layar (terpal -red) penutup tanah, kemudian memukul pakai batu kunci pengait pintu bak dum truck agar terbuka saat hidrolik naik menurunkan tanah timbun yang kami bawa,” jelasnya.

Untuk pekerjaannya itu, gajinya Rp10 ribu sampai Rp15 ribu perhari. Pendapatannya akan bertambah jadi Rp20 ribu jika kebagian tugas mencuci truck. “Saya hanya bekerja setengah hari, sepulang sekolah, paling cuma dua trip, makanya dibayar segitu,” lanjutnya.

Molen baru bekerja sehari penuh bila sekolah libur. Hasil jerih payahnya itu digunakan Molen selain untuk jajan dan membeli buku, juga untuk kebutuhan rumah. “Saya tidak ingin bergantung hidup pada abang. Abang saya tidak punya pekerjaan tetap,” katanya sambil tertawa.

Semangat hidup yang menyala itu didapat Molen dari mendiang ibunya. Sebelum tsunami ia membantu jualan sarapan pagi bersama ibunya. “Ibu bilang agar saya tidak menyusahkan orang lain. Saya harus bekerja keras untuk mewujudkan cita-cita saya jadi pilot,” lanjutnya. Kali ini nada suaranya datar. Dua bulir bening mengalir dari kelopak matanya. “Saya ingat ibu,” katanya seraya menghapus air mata.

Sebelum bekerja sebagai kernet dum truck, Molen bekerja pada mobil penjaja air minum. Namun, tak lama bekerja, ia harus berhenti karena pemilknya menjual mobil tersebut.
Kemandirian hidup Molen, kemudian menginspirasikan Zhet Production. Melalui kerjasama dengan Satuan Kerja (Satker) Pendidikan, Kesehatan dan Gender BRR NAD-Nias, kehidupan Molen difilmkan dalam film dokumenter bertajuk “Senyum Maulana.” [iskandar norman/zulham wahyudi]